LATEST PROMOTIONAL CAMPAIGN
My Account

Pesawat berganti, misi tidak tergoyahkan

Ketika para pilot Perang Dunia II membayangkan tentang bagaimana pesawat kecil dapat dipakai untuk membantu menyebarkan kabar Injil ke daerah-daerah yang sulit dijangkau, dapatkah mereka membayangkan seperti apa bentuk penerbangan misionaris saat ini? Dapatkah para pendiri MAF membayangkan kerumitan alat bantu – pesawat – yang sekarang menjadi armada MAF?

Sekarang, lebih dari 75 tahun setelah pelayanan MAF dimulai, pesawat-pesawatnya telah berubah secara signifikan. Namun, satu hal yang tidak berubah adalah misi MAF Yaitu untuk membagikan kasih Kristus agar orang-orang yang terisolasi dapat diubahkan secara fisik dan spiritual.

Awal Mula (1945 – 1965)

Pesawat terbang yang masih menggunakan bahan kain seperti Piper Cruiser, Piper Pacer, dan Stinson Voyager membantu dimulainya program-program paling awal pelayanan MAF yaitu di Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan. Pesawat-pesawat ringan ini dipakai untuk melayani pos-pos yang terletak dihutan terpencil di mana keluarga misionaris dari Barat membawa Injil kepada suku-suku terpencil. Pilot MAF, Nate Saint, sangat bersemangat untuk menjangkau satu suku secara khusus dimana suku ini dikenal sebagai “suku pembunuh”. Pada tahun 1948, ia menulis kepada orang tuanya bahwa ia berharap pesawat tersebut dapat membantu menjangkau mereka dengan Injil.

Nate Saint bekerja di Stinson Voyager di Ekuador. Foto: Arsip MAF.

Prediksinya terbukti menjadi kenyataan. Pada bulan Januari 1956, Saint mendaratkan Piper Family Cruiser berwarna kuning cerah di gundukan pasir yang dijuluki Palm Beach, di sepanjang Sungai Curaray. Awalnya, ia dan empat misionaris lainnya berinteraksi secara akrab dengan para anggota suku Waorani yang ditakuti. Namun, beberapa hari kemudian, dunia mengetahui tentang kemartiran kelima orang itu di tangan suku tersebut.

Bukannya menghambat impian para pilot awal Perang Dunia II tersebut, kejadian itu justru mendorong gagasan penerbangan misionaris ke seluruh dunia. Sebagai hasilnya, para pemuda Kristen menangkap visi untuk menggunakan pesawat terbang untuk menjangkau mereka yang terhilang – dan MAF pun berkembang dengan pesat.

Tahun-tahun Pertumbuhan (1965 – 1990)

Ketika MAF beralih dari pesawat berbahan kain ke pesawat aluminium, pesawat Cessna kecil menjadi pesawat yang paling banyak digunakan pada saat itu.

Di Indonesia, Cessna 185 dan 206 melayani para misionaris dari Barat dan penginjil lokal di daerah-daerah yang sulit dijangkau, dan Injil terus berkembang. Pesawat-pesawat baru ini mampu melipatgandakan jangkauan dan muatan pesawat-pesawat sebelumnya serta membuka lebih banyak pintu untuk membantu pelayanan penyembuhan fisik, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan bantuan bencana untuk menjangkau masyarakat yang terpencil.

Penduduk desa membawa seorang anak perempuan dengan sebuah tandu darurat ke dalam pesawat MAF untuk penerbangan evakuasi darurat di Kalimantan, Indonesia, sekitar tahun 1970-an. Foto: Fotografer dari MAF.

Seorang pilot MAF yang merupakan generasi kedua, Dick Parrott, putra dari pendiri/mantan presiden MAF, Grady Parrott, teringat saat membuka program di Kalimantan Barat, Indonesia, pada tahun 1969 dengan pesawat C185, PK-MCB, yang kemudian dikenal sebagai “Charlie Brown”. Sebagai satu-satunya pilot/mekanik dalam program ini pada saat itu, Dick bertanggung jawab untuk memperbaiki dan menerbangkan pesawat.

Tentu saja, pilot dan pesawat lain mengikuti, dan program ini berkembang ke Kalimantan Timur (sekarang Kalimantan Utara) dan, kemudian, Kalimantan Tengah. Pesawat Cessna kecil itu membawa penyembuhan fisik bagi orang-orang yang terisolasi melalui kemitraan dengan rumah sakit misi Baptis, dan memungkinkan pelatihan sekitar 100.000 orang Kristen Dayak melalui program pendidikan teologi. MAF juga melayani sekolah Alkitab C&MA di sana.

Beberapa tahun yang lalu, ketika Dick mengetahui bahwa Charlie Brown akan berhenti melayani, dia terkejut.

“Saya kagum bahwa sekolah itu masih beroperasi,” kata Dick. “Anda tahu, MAF melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam menjaga peralatan mereka agar tetap beroperasi.”

Di Papua, Indonesia, MAF terus melayani para misionaris dari Barat yang sedang mengerjakan proyek penerjemahan Alkitab. Bersamaan dengan pesawat kecil Cessna, MAF memperkenalkan pesawat lain ke armadanya pada tahun 1976, yaitu helikopter. Alat baru ini membantu para misionaris mensurvei daerah-daerah yang belum terjangkau dan memungkinkan mereka untuk tinggal di tempat terpencil sampai lapangan terbang dapat dibangun.

Beberapa Tahun Terakhir (1990-an – 2020)

Dalam beberapa tahun terakhir, MAF memperkenalkan pesawat bermesin turbin yang lebih besar dan lebih kompleks untuk armadanya yaitu Cessna Caravan, Quest Kodiak, dan PC-12. Semua ini membawa lompatan besar dalam kemampuan jangkauan dan muatan, ditambah teknologi canggih yang meningkatkan keselamatan dan efisiensi. Dan, mereka menggunakan bahan bakar jet, bukan avtur, yang lebih mudah didapatkan didalam negeri.

Pada bulan Maret 2016, sebuah pesawat MAF Jenis Caravan mendarat di lapangan terbang Todro di Republik Demokratik Kongo. Pesawat ini membawa staf MAF, misionaris SIL, dan para pejabat setempat yang datang untuk merayakan selesainya Perjanjian Baru dalam bahasa Logoti – sebuah proyek yang terus berjalan dengan bantuan MAF selama bertahun-tahun dalam masa perang dan ketidakpastian.

Pelayanan MAF telah berlangsung selama beberapa dekade dalam membawa Injil kepada kelompok masyarakat terpencil dan melayani para misionaris yang sedang mengerjakan proyek penerjemahan, mengirimkan Alkitab yang telah selesai, dan mendukung gereja-gereja lokal.

Setelah penerbangan MAF yang mendukung para penerjemah Alkitab yang sedang menyelesaikan Alkitab dalam bahasa Hupla, kedua pesawat ini – pesawat Kodiak (kiri) dan Caravan – membawa para tamu ke desa terpencil Soba, di Papua, Indonesia, untuk penyerahan Alkitab dalam bahasa Hupla pada tahun 2014. Foto oleh Mark dan Kelly Hewes.

Pelayanan selama puluhan tahun ini biasanya mewakili beberapa pesawat juga – pesawat yang tepat untuk pekerjaan itu.

Namun, apa pun jenis, model, atau ukuran pesawatnya, setiap pesawat melayani tujuan mulia yaitu untuk menjangkau orang-orang yang terpencil dengan kasih Yesus Kristus. Dan setiap pesawat yang MAF miliki dirawat dengan cermat berkat dukungan dari orang-orang seperti Anda yang telah berdiri bersama kami selama bertahun-tahun; orang-orang yang masih percaya bahwa pesawat terbang dapat berperan dalam memperkenalkan Injil kepada orang-orang.

*Saat cerita ini ditulis, kami masih menggunakan pernyataan visi dan misi kami yang lama. Pada tahun 2021 kami sedikit mengubah kalimatnya, namun maksudnya tetap sama. Anda dapat melihatnya di sini.  

Saya mau mendengar pekerjaan Allah di pedalaman Indonesia!

Berlangganan cerita transformasi dan harapan terbaru dari pedalaman Indonesia!

Kisah

Sebuah Warisan Pelayanan

Kilas balik 50 tahun MAF di Kalimantan Utara Pada tahun 1971, pilot MAF Dave Hoisington menerbangkan delegasi konferensi gereja dari Papua, Indonesia, ke pangkalan MAF

Read More »

Search this Website

Notify Me of Upcoming Adventures

Name(Required)

Share This

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email