LATEST PROMOTIONAL CAMPAIGN
My Account

Isi Hati MAF

MAF MEMBANTU MEMBAWA PELAYANAN PEMURIDAN KE DAERAH TERPENCIL

 

Oleh Natalie Holsten

Saat matahari tropis menyinari desa Long Pujungan, anak-anak kecil berbondong-bondong masuk ke dalam gedung gereja, satu per satu, baru saja selesai mandi dan siap untuk belajar.

Mereka berkumpul di bagian depan gereja, duduk di lantai membentuk setengah lingkaran, dengan meja-meja kecil yang bisa dilipat di depan mereka. Mata mereka tertuju pada Refi, seorang pemuda yang ditugaskan untuk mengajari mereka dasar-dasar membaca dan menulis.

Refi adalah salah satu dari beberapa anak muda yang membantu pelayanan Hati MAF, sebuah inisiatif pemuridan yang dimulai beberapa tahun yang lalu oleh MAF dan para pemimpin gereja lokal di Kalimantan Utara, Indonesia, untuk menjangkau komunitas-komunitas terpencil.

Guru literasi Hati MAF, yaitu Refi, sedang mengajar pelajaran membaca dasar kepada anak-anak di desa Long Pujungan. Foto oleh Lemuel Malabuyo.

 

Sejak awal tahun 1970-an, MAF telah beroperasi di Kalimantan, MAF terbang ke tempat-tempat yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk dapat dicapai melalui jalur sungai atau jalur darat melalui hutan belantara. Selama bertahun-tahun, MAF telah memberikan dukungan melalui penerbangan kepada Gereja-gereja setempat, serta membantu penerbangan medevac dan program pengembangan masyarakat.

Meskipun banyak yang telah berubah dalam beberapa dekade sejak MAF pertama kali memulai pelayanan penerbangan di sana, satu hal yang tetap sama: yaitu masyarakat terpencil sangat membutuhkan Yesus.

 
Kebutuhan akan pelayanan pemuridan

Dimulai pada tahun 2019, beberapa staf MAF mulai mendiskusikan bagaimana mereka dapat menjadi lebih kreatif dalam membantu gereja-gereja di pedalaman untuk menjadi lebih efektif dalam pemuridan.

“Para pendeta yang berada di komunitas ini sedikit kewalahan, bahkan tidak tahu harus memulai dari mana karena masalah yang dihadapi komunitas mereka,” kata pilot MAF, Jeremy Toews. “Mereka secara khusus meminta bantuan dari MAF untuk membantu mendatangkan guru-guru, yaitu orang-orang yang dapat memberikan pengajaran kekristenan yang sesuai dengan ajaran Alkitab dan dapat memuridkan masyarakat.”

Jeremy tidak tahu persis siapa yang akan menjadi mitra mereka dalam pelayanan pemuridan, tetapi ketika mereka berdoa dan berdiskusi tentang bagaimana MAF dapat terlibat, ada satu nama yang muncul: Esther Adam.

Esther Adam, adalah salah seorang yang sering terbang bersama MAF, dan ia telah berpengalaman melakukan perjalanan sungai yang mengerikan dari pangkalan MAF di pesisir pantai menuju ke desa Long Pujungan, sebuah perjalanan yang memakan waktu beberapa hari. Sebuah Kodiak MAF melakukan perjalanan yang sama hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Foto oleh Lemuel Malabuyo.

Esther adalah seorang teman lama MAF, seorang “frequent flier” yang sering melakukan perjalanan ke pedalaman dengan peran gandanya sebagai instruktur di sebuah sekolah Alkitab, dan sebagai kepala bagian dari pelayanan anak dan remaja untuk Christian and Missionary Alliance (CMA) cabang Indonesia di Kalimantan Utara.

Ketika staf MAF bertemu dengan Ester untuk membicarakan bagaimana MAF dapat membantu kegiatan gereja dengan lebih baik, dia baru saja kembali dari perjalanan ke Long Pujungan, di mana dia bertemu dengan Pendeta Musa, gembala sidang gereja-gereja CMA di daerah tersebut.

Dia tahu persis di dalam hal apa MAF dapat membantu.

Permohonan dari seorang pendeta

Pendeta Musa bercerita kepada Ester tentang betapa berat beban yang ia rasakan bagi jemaatnya. Banyak keluarga yang terluka, pernikahan yang bermasalah, dan anak-anak yang bertumbuh di gereja namun tidak ada pemuridan di rumah. Masalah keluarga yang dilihatnya diperparah dengan peredaran narkoba di daerah tersebut, serta pengaruh internet melalui handphone.

Sambil menangis, ia memohon kepada Ester-apakah ada yang bisa Ester lakukan untuk menolong orang-orang di Pujungan?

Ester berhasil menyampaikan permintaan Pdt. Musa ini dalam pertemuan dengan MAF, yang juga dihadiri oleh Bob Lopulalang dan istrinya, Sery, pasangan suami istri yang aktif dalam pelayanan anak dan remaja. Bob baru-baru ini menjadi bagian dari tim yang mengembangkan kurikulum khusus untuk pemuridan anak-anak.

“Kami memutuskan untuk fokus pada tiga bidang: Bob fokus pada anak-anak sekolah minggu dan pelatihan untuk guru sekolah minggu, saya mengajar kelas untuk orang tua, dan Sery mengajar kelas untuk remaja,” kata Esther.

Anggota tim dari Hati MAF, Esther Adam, memberikan semangat kepada para guru-guru sekolah minggu di Long Pujungan. “Jika seseorang menerima Yesus di dalam hatinya, dan mereka meminta Yesus untuk memimpin hidup mereka … itulah sukacita terbesar yang saya dapatkan dari pelayanan ini.” Foto oleh Lemuel Malabuyo.

Setelah rencana pelayanan mereka terbentuk, maka diputuskan bahwa lokasi pertama yang akan dikunjungi adalah Long Pujungan, yang berjarak satu jam dengan pesawat terbang dari pangkalan MAF di Tarakan. Kemampuan MAF untuk menyediakan transportasi yang aman dan efisien adalah komponen utama dari pelayanan ini, kata Esther, yang telah merasakan perjalanan sungai yang mengerikan selama berhari-hari dari Long Pujungan ke Tarakan dengan menggunakan sebuah perahu panjang. “Tanpa MAF, kami tidak mungkin berada di sini.”

 

Setelah menghadapi beberapa hambatan akibat pembatasan COVID-19 dan proyek pembangunan lapangan terbang, pelayanan pemuridan Hati MAF kembali aktif di Long Pujungan. Foto oleh Ian Rojas.
Kepedulian terhadap anak-anak

Menjelang akhir tahun 2019, pelayanan pemuridan baru dimulai, dengan MAF menyediakan penerbangan sebanyak enam kali di akhir pekan dengan tujuan Long Pujungan.

 

“Kami meminta Pendeta Musa, kepala gereja, dan orang-orang penting di desa untuk menghadiri kelas tentang bagaimana cara mendidik seorang anak, dan itu adalah kelas pertama yang kami adakan,” kata Bob tentang saat-saat awal pelayanan ini. “Kami tahu hal itu akan berdampak pada yang lainnya ketika para pemimpin-pemimpin hadir. Dan memang benar, banyak yang hadir.”

 

Kurikulum yang disusun Bob tidak hanya mencakup cara mengajar anak-anak, tetapi juga berfokus tentang bagaimana Alkitab menunjukkan bahwa kita harus menghargai, mengasuh, dan mengajar anak-anak tentang Yesus. “Kami menyadari bahwa para orang tua membutuhkan pemuridan dan dorongan untuk mendidik anak-anak mereka,” kata Bob.

Para guru sekolah minggu di Long Pujungan menerima pelatihan khusus yang dimana pelatihan ini merupakan bagian dari pelayanan Hati MAF. Foto oleh Lemuel Malabuyo.

Setelah beberapa kelas pertama, Bob mulai mendengar cerita tentang bagaimana keluarga-keluarga tersebut merasakan dampaknya, termasuk satu keluarga yang dikenal sering melakukan kekerasan kepada anak-anak mereka sebelumnya menjadi lebih menyayangi anak-anak mereka.

“Kami juga mendengar kesaksian dari beberapa keluarga yang mereka bagikan kepada sesama penduduk setempat, bahwa program ini benar-benar mendorong mereka untuk merawat anak-anak mereka,” ujar Bob. “Hal itu benar-benar mendorong kami, kami melihat buahnya, kami melihat program ini dipakai Tuhan.”

Esther juga mendengar kesaksian dari keluarga-keluarga yang menjadi lebih menyayangi anak-anak mereka dan tidak lagi menjadi orang tua yang keras. “Rumah tangga mereka yang tadinya sulit telah berubah,” katanya. “Sungguh menakjubkan!”

 

Hambatan yang tak terduga, membuka kesempatan baru

Pelayanan ini terus berjalan, sampai sebuah proyek perbaikan landasan pacu pemerintah yang menutup landasan pacu Long Pujungan selama berbulan-bulan. Kemudian, pembatasan akibat pandemi COVID-19 yang sangat membatasi ruang gerak MAF untuk terbang.

Ketika pembatasan akhirnya dicabut dan lapangan terbang Long Pujungan dibuka kembali awal tahun ini, MAF mulai terbang bersama tim pelayanan kembali.

Ketika pelayanan dilanjutkan, pelayanan diperluas untuk mencakup literasi anak usia dini. Ini adalah kebutuhan yang diakui oleh para pemimpin sejak awal karena mereka melihat bahwa anak-anak tidak dapat membaca dengan baik, sehingga menjadi tantangan bagi para guru sekolah minggu.

Rindu Siahaan, manajer kantor MAF Tarakan, yang memiliki latar belakang di bidang literasi anak usia dini, melangkah maju dan menawarkan bantuannya. Ia bertemu dengan para pemimpin di Long Pujungan untuk memastikan bahwa mereka setuju dengan bentuk pelayanan baru yang berfokus pada anak-anak di desa tersebut.

“Saya berpikir jika mereka tidak memiliki budaya membaca dan mereka tidak tahu cara membaca, bagaimana mereka bisa membaca Alkitab dengan baik?” Kata Rindu. “Itulah yang memotivasi saya untuk menekuni hal ini.”

Kelas literasi Hati MAF sedang berlangsung di Long Pujungan. Foto oleh Lemuel Malabuyo.

Bapak Rindu memberikan pelatihan kepada kalangan dewasa muda yang baru saja lulus dari perguruan tinggi, seperti Refi, untuk menjadi relawan dalam program ini. Mereka biasanya dikirim berpasangan untuk mengajar secara intensif selama dua minggu dengan kelompok anak usia empat sampai enam tahun, dengan tujuan untuk mempersiapkan anak-anak yang akan masuk sekolah dasar. Dan mereka dapat melihat hasilnya, tidak hanya dalam hal literasi, tetapi juga dalam hal minat para siswa untuk bersekolah.

“Kali kedua kami bertemu, saya bertanya kepada seorang guru, apakah Anda melihat perbedaan pada murid-murid Anda? Dan dia menjawab, ‘ya, mereka lebih antusias belajar,'” kata Rindu.

Program literasi ini telah membuka jalan bagi berbagai denominasi gereja yang lainnya untuk terlibat dalam Hati MAF, yang merupakan keinginan tim Hati MAF.

“Rindu sangat aktif merekrut anak-anak muda dari berbagai gereja di Tarakan yang juga memiliki jiwa misi,” kata Jeremy.

Menurut Jeremy, dengan adanya orang-orang dari berbagai latar belakang gereja yang berbeda yang bersatu di bawah naungan panji pemuridan akan memperluas potensi dan jangkauan pelayanan. Dan MAF, dengan sejarahnya yang panjang di Kalimantan, sangat dikenal dan dihormati di masyarakat pedalaman. Dengan menggunakan “MAF” di dalam nama Hati MAF, memberikan payung yang bersifat netral sehingga masyarakat mengetahui bahwa pelayanan ini adalah salah satu pelayanan yang didukung oleh MAF dan dapat dipercaya.

Berita yang tersebar luas

Berita tentang pekerjaan Hati MAF di daerah pedalaman telah menyebar ke desa-desa lain, dan masyarakat setempat meminta tim untuk membawa pelayanan ini ke wilayah mereka. Salah satunya adalah Long Belaka, sebuah desa yang berjarak dua jam perjalanan ke hulu sungai dari Long Pujungan.

Salah satu pemimpin gereja setempat, Pendeta Sadung, merasa terbebani dengan keadaan penduduk desa di sana, dan mengundang anggota tim Hati MAF untuk mengunjungi dan melihat kebutuhan mereka.

Pendeta Sadung, yang mengepalai gereja-gereja di daerah Long Pujungan, memandu perahu ke arah hulu sungai menuju ke masyarakat terpencil di Long Belaka. “Kami bersyukur kepada Tuhan bahwa MAF dapat melayani masyarakat yang terisolir di Kalimantan Utara, khususnya masyarakat di daerah Pujungan.” Foto oleh Lemuel Malabuyo.

“Masyarakat di sana masih terikat dengan kepercayaan lama mereka,” kata Pendeta Sadung. “Di satu sisi, mereka menghadiri kebaktian di gereja, di sisi lain, jika ada orang yang sakit, atau ada anak yang lahir, mereka kembali ke cara-cara leluhur untuk melindungi diri mereka dari roh-roh jahat.”

Dalam kunjungan baru-baru ini ke Long Belaka, anggota tim Hati MAF melihat adanya kebutuhan yang mendalam akan Injil yang akan berdampak pada desa tersebut, bersama dengan kebutuhan pendidikan dan kebutuhan lainnya, dan tim Hati MAF berdoa dan mempertimbangkan langkah selanjutnya.

“Kami harus berdoa dan meminta Tuhan untuk memimpin kami dalam hal apa yang Dia ingin kami lakukan untuk desa ini,” kata Ester. “Kami akan menunggu apa yang Tuhan minta untuk kami lakukan, setelah itu kami akan bergerak sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.”

Kemitraan dengan para donor

Pelayanan Hati MAF didanai melalui Subsidi dari Gereja nasional, sebuah inisiatif pendanaan yang diberikan oleh para donatur yang juga mencakup biaya penerbangan untuk sekolah Alkitab, proyek-proyek penerjemahan, dan konferensi-konferensi gereja.

“Untuk semua orang yang telah menyumbang, yang mendukung kami dalam doa dan juga dana, kami mengucapkan banyak terima kasih,” kata Direktur Program Kalimantan Tyler Schmidt. “Kami tidak bisa melakukan ini sendirian. Dan dari lubuk hati kami yang paling dalam, kami mengucapkan terima kasih.”

 

 

 

 

Story ran in the Vol. 3 2022 edition of FlightWatch. Read the entire issue here:

Saya mau mendengar pekerjaan Allah di pedalaman Indonesia!

Berlangganan cerita transformasi dan harapan terbaru dari pedalaman Indonesia!

Kisah

Sebuah Warisan Pelayanan

Kilas balik 50 tahun MAF di Kalimantan Utara Pada tahun 1971, pilot MAF Dave Hoisington menerbangkan delegasi konferensi gereja dari Papua, Indonesia, ke pangkalan MAF

Read More »

Search this Website

Notify Me of Upcoming Adventures

Name(Required)

Share This

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email